LEFKO LEFLYE

Minggu, 13 Februari 2011

Siapa Otak Dibalik Berdirinya Mesin Pencari Google?


Ingin tahu Siapa Otak Dibalik Berdirinya Mesin Pencari Google?
Berkat otak Marissa Ann Mayer terciptalah google, Vice President untuk Search Product and User Experience di Google. Berkat visinya, saat ini Anda dapat menikmati berbagai inovasi perusahaan mesin pencari tersebut. Mayer bertindak sebagai ”penjaga pintu” untuk proses rilis produk, yang menentukan kapan atau apakah produk Google tertentu siap untuk diluncurkan kepada pengguna.
Menjelajahi Google sama seperti menjelajahi benak Mayer. Sebagai Vice President, dia turut andil menjadikan perusahaan tersebut sebagai mesin pencari nomor satu di dunia, dengan pendapatan nyaris sebesar US$22 miliar tahun lalu. “Aku selalu menyukai kesederhanaan. Sulit untuk mengatakan di mana estetika saya berakhir dan Google dimulai,” ujarnya suatu ketika.

Di luar stereotip
Mayer bergabung dengan Google pada 1999. Dia menjadi insinyur perempuan pertama di perusahaan itu dan merupakan salah satu dari 20 karyawan pertama yang direkrut Google. Sebelum bergabung dengan Google, perempuan kelahiran 30 Mei 1975 ini pernah bekerja di laboratorium riset UBS (Ubilab) di Zurich, Swiss, dan di SRI International di Menlo Park, California.

Di Google, Mayer memimpin sebuah tim yang bertanggung jawab atas user interface dan web server. Tugasnya antara lain merancang dan mengembangkan search interface Google, menginternasionalisasikan situs tersebut ke dalam lebih dari 100 bahasa di dunia, mendefinisikan Google News, Gmail dan Orkut, serta meluncurkan lebih dari 100 fitur dan produk di Google.com. Sejumlah hak paten telah didaftarkan atas inovasinya di bidang kecerdasan buatan dan desain interface.
Hampir tidak ada produk Google yang keluar tanpa persetujuan Mayer, termasuk inovasi seperti Gmail dan Google Earth. Bahkan, CEO Google Eric Schmidt juga mengakui betapa besar peran Mayer dalam membangun kerjaan Google.

”Sangat sulit untuk melebih-lebihkan pengaruhnya. Dia membangun tim yang mendesain produk yang kita gunakan.”
Tapi jangan membayangkan Mayer sebagai perempuan berkacamata tebal yang duduk di depan komputer sepanjang malam. Sebab, dia berada jauh di luar stereotip itu. Lemari pakaiannya saja penuh dengan setelan pakaian rancangan Oscar de la Renta dan Armani.

“Ketika orang berpikir tentang ilmu komputer, mereka membayangkan orang-orang dengan kantong pelindung dan kacamata tebal yang melakukan coding sepanjang malam. Aku juga meng-coding sepanjang malam! Aku adalah stereotip, tapi aku juga melanggar stereotip,”  leluconnya.
Mayer menerima gelar sarjana dalam Sistem Simbolik (cum laude), serta gelar master dalam Ilmu Komputer dari Stanford University. Untuk kedua gelar tersebut, dia mengkhususkan diri di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence). Pada 2009, Illinois Institute of Technology menganugerahi Mayer gelar doktor honoris causa sebagai penghormatan atas usahanya dalam merintis bidang pencarian.

Di samping pekerjaan penuh waktu di Google, Mayer pernah memberi kuliah di kelas pengantar pemrograman komputer di Stanford kepada lebih dari 3.000 siswa. Standford memberikannya penghargaan Centennial Teaching Award dan Forsythe Award atas kontribusinya yang luar biasa kepada pendidikan sarjana.
Di sela-sela waktu luangnya, Mayer juga mengorganisir Google Movies–acara kumpul-kumpul yang dilakukan beberapa kali setahun untuk menyaksikan film terbaru–untuk 6000 orang karyawan ditambah keluarga dan teman.
Kisah kesuksesannya telah dipublikasikan di berbagai media massa seperti Newsweek (”10 Tech Leaders if the Future”), Red Herring (”15 Women to Watch”), Business 2.0 (”Silicon Vallet Dream Team”), BusinessWeek, Fortune, dan Fast Company.


0 komentar:

Posting Komentar

ARTIKEL TERKAIT